RSS

Kitab Klasik Versi Terjemahan

Sullamuttaufiq
Perpaduan Catatan Terjemah Umum
Pasal : Tentang Murtad

*”Setiap muslim wajib memelihara keislamannya dan menjaganya dari hal-hal yang merusak, membatalkan, dan memutuskannya, yaitu murtad. Juga wajib memohon perlindungan kepada Allah swt.”

Murtad lebih jelek daripada kufur sebab orang murtad itu telah mengetahui Islam dan mengamalkannya, lalu ia keluar dari Islam. Semua amal baik orang murtad itu menjadi lebur, apabila tidak segera kembali kepada Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat serta bertaubat dengan sungguh-sungguh (nasuha).

“Sekarang ini banyak orang yang sembarangan bicara, sehingga dari mulutnya suka keluar ucapan-ucapan yang bisa mengakibatkan mereka keluar dari Islam dan mereka tidak menyadari bahwa ucapannya itu menimbulkan dosa bahkan bisa membawanya pada kekufuran.” Betapa jeleknya ucapan mereka itu, karena mereka tidak merasa berdosa maka ia pun tidak bertaubat. Dengan demikian besar kemungkinan murtadnya itu terbawa mati. Na’uudzu Billaahi mindzaalik.

Kejadian itu timbul akibat orang tidak mau mengkaji dan memperdalam ilmu agama, padahal masalah pengajian pada dewasa ini sangat diperhatikan, bahkan dianjurkan oleh pemerintah.

Kalau orang berbuat dosa dan merasa berdosa, itu lebih baik dibanding perbuatan tersebut di atas, sebab ada kemungkinan dia akan bertobat; betapapun besarnya dosa, apabila bertobat dapat diampuni oleh Allah.

Murtad itu terbagi tiga bagian, yaitu:
1. murtad dalam i’tiqad
2. murtad dalam perbuatan
3. murtad dalam ucapan.
Tiap-tiap bagian tersebut di atas mempunyai aneka macam cabang.

I. Murtad dalam I’tiqad

Yang termasuk murtad dalam I’tikad adalah:

1.1 Meragukan kebenaran adanya Allah swt. (atau sifat-sifat-Nya dsb).
1.2 Meragukan kerasulan Muhammad saw. (dan atau rasul-rasul atau nabi-nabi lainnya, terutama mereka yang namanya tercantum dalam Alquran).
1.3 Meragukan kebenaran isi Alquran (sekalipun hanya satu ayat).
1.4 Meragukan adanya hari akhir (kiamat).
1.5 Meragukan adanya surga dan neraka.
1.6 Meragukan adanya pahala, atau siksaan (azab atau
pembalasan amal).
1.7 Dan hal-hal atau peristiwa Iainnya yang telah disepakati (ijma’) para ulama, (seperti peristiwa isra mi’raj Nabi saw.) dari sebagainya.

2. Mengitikadkan, hilangnya salah satu dari sifat-sifat Allah Ta’ala yang wajib bagi-Nya secara ijma’, (yaitu yang tercantum di dalam Alquran).

3.1 Mengenai sifat Ilmu Allah, (termasuk mengingkari akan kemahatahuan Allah swt. pada alam semesta ini sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya). Padahal setiap butir pasir yang ada dalam lautan pun itu diketahui Allah swt.

3.2 Berprasangka, bahwa Allah swt. bersifat dengan salah satu sifat, padahal Ia Mahasuci dari sifat itu secara ijma, seperti mengaku bahwa Allah itu berjasad seperti jasad jasad lainnya.

4.1 Atau menghalalkan barang yang diharamkan berdasarkan ijma serta telah dimaklumi dengan jelas di dalam ajaran agama Islam, seperti menghalalkan zina, bersetubuh dari lubang belakang, membunuh orang tanpa haknya, mencuri, menggasab, yaitu mengambil barang orang lain tanpa izin meskipun akan dikembalikan lagi.

5.1 Atau mengharamkan perkara yang halal berdasarkan ijma, seperti: jual-beli, nikah, dan sebagainya.

5.2 Atau meniadakan wajibnya perkara yang sudah mujma’alaih, seperti mengenai salat lima waktu atau sebagian sujudnya; mengenai wajibnya zakat, shaum (puasa), menunaikan haji, dan berwudhu.

6.1 Atau mewajibkan perkara yang tidak diwajibkan berdasarkan ijma.

6.2 Atau meniadakan perkara yang telah biasa dilaksanakan menurut hukum Syara’ Islam berdasarkan ijma, seperti: meniadakan sunatnya salat, sunat rawatib, tarawih, witir dan sebagainya.

7.1 Atau bermaksud mengerjakan kekufuran, meskipun di masa yang akan datang. (Padahal kewajiban orang muslim bertekad untuk memegang teguh agama Islam sampai mati, meskipun menghadapi godaan atau tantangan yang bagaimanapun, tidak akan meninggalkan Islam).

7.2 Atau bermaksud mengerjakan setiap pekerjaan yang telah diterangkan di atas atau meragukannya, bukan karena was-was, (sama saja bisa mengakibatkan murtad. Sedangkan was-was tidak mengakibatkan murtad, yaitu bisikan hati mengenai kekufuran, akan tetapi terus ditolak ketika itu juga).

10.3 Atau mentashghirkan (mengecilkan) namanya, (seperti: Muhammad dengan kata Muhaimid dan sebagainya dengan maksud menghinakannya).

10.4 Atau memungkinkan ada nabi baru sesudah Nabi Muhammad saw., (padahal beliau itu Nabi Allah yang penghabisan sebagaimana yang diterangkan dalam Quran).

II. Murtad dalam Perbuatan

Pada bagian kedua, yaitu mengenai murtad yang terjadi karena perbuatan, seperti: bersujud kepada berhala, matahari atau makhluk lainnya. (Termasuk sujud, ialah memin-taminta kepada makhluk Allah, memuja-muja, menganggap memiliki kekuatan (kekuasaan) selain kekuasaan Allah).

Kalau menghormati makhluk dengan membungkuk seperti rukuk, hukumnya secara terinci sebagai berikut:

a. kalau diniatkan dengan menyamakan keagungan Allah
adalah kufur.
b. kalau tidak demikian, tetapi sekadar menghormati saja, adalah haram.

Adapun menghormati makhluk dengan menundukkan kepala saja atau membungkuk sedikit namun tidak sampai batas rukuk, tidak haram, tetapi makruh.

III. Murtad dalam Ucapan

Bagian ketiga, ialah murtad karena ucapan, hal ini sangat banyak sehingga tidak terhitung.

Di antaranya ialah:

1. Mengucapkan kepada orang muslim; Hai kafir! Hai Yahudi! Hai Nasrani! Hai orang yang tidak beragama! Sambil beritikad bahwa yang dituju (dipanggil) itu adalah orang yang beragama Islam, maka orang yang memanggil itu menjadi kafir, Yahudi, Nasrani atau tidak beragama. (Pendeknya kejelekannya itu kembali kepada pembicara).

Sabda Nabi Muhammad saw.:
“Apabila seorang laki-laki mengufurkan saudaranya yang muslim, maka kekufuran itu kembali kepada salah seorangnya’: (Riwayat Muslim)

Kalau yang dituduh orang kafir itu memang orang kafir (murtad), dibenarkan, akan tetapi kalau yang dituduh itu bukan orang kafir (murtad), maka kekufuran kembali kepada pembicaranya.

Dan sabda-nya: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya sesama muslim, hai kafir! Maka kekufuran itu kembali kepada salah seorangnya. Kalau yang dipanggil kafir itu memang orang kafir, ya memang begitu, akan tetapi kalau bukan kafir, maka kekafiran kembali kepada pembicaranya”. (Riwayat Muslim)

2.1 Seperti menghinakan atau mengejek sebuah nama dari nama-nama Allah swt. (Nama Allah itu ada 99 macam, yaitu asmaul husna).

2.2 Mengejek atau mempermainkan janji Allah tentang surga, seperti: “Surga itu belum tentu benar, kalau aku masuk surga aku akan ….” dengan maksud mempermainkan.

2.3 Mengejek ancaman Allah, (seperti: “biarlah aku masuk neraka, sebab di neraka itu bersama-sama dengan bintang film, banyak orang dan sebagainya), dan ucapan itu timbul dari orang yang sadar.

3.1 Dan seperti orang berkata: “Kalau Allah menyuruh aku berbuat sesuatu, aku tidak akan mengerjakannya” (berarti sudah mempermainkan perintah Allah).

3.2 Atau kalau kiblat berada di arah anu …, (misal Indonesia), aku tidak akan salat ke sana. (Padahal itu urusan Allah, Ia Mahakuasa).

4. Atau: “Kalau Allah memberi aku surga, aku tidak akan memasukinya.” Kata-kata itu merupakan ejekan, penghinaan atau memperlihatkan kebencian pada semua perkara itu.

5. Atau dengan kata lain: “Kalau Allah menyiksa aku karena meninggalkan salat padahal aku ini dalam keadaan sakit, maka Allah itu zhalim atau berarti menganiaya aku.”

6.1 Atau katanya kepada sesuatu perbuatan yang baru terjadi: “Ini bukan dengan takdir Allah”. Padahal segala kejadian dengan qadha dan qadar-Nya.

6.2 Atau kalau semua nabi, para malaikat atau semua kaum muslim menjadi saksi bagiku mengenai sesuatu, aku tidak akan menerima kesaksian mereka.

7.1 Atau katanya: “Aku tidak akan mengerjakan anu … meskipun hukumnya sunat.” Ucapan itu dimaksudkan untuk memperolok-olok atau mengejek hukum Islam.

7.2 Atau: “Kalau si Fulan menjadi Nabi, aku tidak akan percaya kepadanya.” (Padahal pangkat kenabian itu adalah pilihan Allah, siapa saja yang Ia pilih, kita wajib mempercayainya).

8. Atau kalau ia diberi fatwa oleh orang alim, katanya: “Apa itu hukum syara’?” sambil bermaksud menghina atau menganggap enteng.

‎9. Atau ia berkata: “Laknat (kutukan) Allah itu bagi setiap orang ‘alim,” sambil bermaksud keseluruhannya, termasuk para Nabi.

10. Atau ia berkata: “Aku bebas dari Allah, malaikat, Nabi Allah, Quran, hukum syariat atau dari agama Islam.

Atau ia mengatakan, bagi hukum syara’ yang dipakai memutuskannya sebagai berikut: ‘Ini bukan hukum”, atau: “Aku tidak mengenal hukum ini”, sambil memperolok-olok hukum Allah.

12.1 Atau sambil mengisi wadah ia berkata: “Waka’san dihaaqan”, (gelas yang dipenuhi). Kalimat itu berasal dari firman Allah: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). (An-Naba: 31-34)

12.2 Atau Sambil menuangkan minuman ia mengatakan:
“Fakaanat Saraaban”, (gunung-gunung itu laksana debu yang bertebaran). Kalimat itu berasal dari firman Allah; Dan dijalankanlah gunung gunung maka menjadi fatamorganalah ia. (S. An-Naba: 20)

12.3 Atau ketika menimbang atau menakar ia mengatakan:
“Waidzaa kaaluuhum au Wazanuuhum yukhsiruun” (dan apabila mereka menyukat atau menimbang untuk mereka (pembeli), mereka suka menguranginya).

Kalimat ini berasal dari firman Allah: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka mina dipenuhi, dan apabila mereka rnenakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi.” {S, Al Muthaffiflin: 1-3}

12.4 Atau ketika melihat orang banyak ia mengatakan: “Wahasyarnaahum falam nughaadir minhum ahadan” (dan kami mengumpulkan mereka maka tidak kami tinggalkan seorang pun dari mereka). Kalimat ini dari firman Allah: Dan (ingatlah) akan hari {yang ketika itu) Kami jalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorang pun dari mereka. {S. Al Kahfi: 47)

Semua ucapan orang itu dengan mak-sud menghina atau
memperolok-olok Alquran.

Demikian pula bisa mengakibatkan murtad, bila Alquran disimpan pada suatu tempat yang tidak layak atau hina), dengan maksud menghina Alquran. Tapi kalau tidak bermaksud menghinakannya tidak apa-apa. Akan tetapi menurut Syekh Ibnu Hajar Rahimahullah tidak jauh keharamannya. (Yakni cara demikian meskipun tidak bermaksud menghinakannya, hukumnya tetap haram).

13.1 Demikian pula termasuk kufur bagi orang yang memaki-maki nabi atau malaikat;

13.2 Atau ia berkata: “Aku adalah germo kalau aku salat”;
13.3 Atau ia berkata: “Aku belum mendapat kebaikan sejak aku salat”; atau: “Salat itu tidak perlu bagiku”; kesemuanya itu dimaksudkan untuk menghinakannya, memperolok-olok salat, memperbolehkan meninggalkannya atau menganggap salatnya sial (misalnya, karena aku salat, anakku atau hartaku celaka atau daganganku rugi dan sebagainya).

14. Atau ia berkata kepada orang muslim: “Aku musuhmu dan musuh Nabimu”; atau kepada orang syarif (keturunan Nabi Muhammad saw.} : “Aku musuhmu dan musuh kakekmu, sambil bermaksud kepada Nabi saw.:

15. Atau mengatakan sesuatu dengan lafaz-lafaz yang keji dan sangat jelek seperti tersebut di atas, (Selain hal hal tersebut di atas menurut Syekh Abu Bakar bin Husen, ialah: Membaca Quran sambil memukul rebana, menaruh tulisan Quran di atas kotoran, mengaku mengetahui keadaan yang gaib, menyetujui perbuatan yang kufur dan lain-lain).

Syekh Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami dan Qadhi Iyadh Rahimahumallaah telah menghitung (merinci) bermacam-macam perkara yang mengufurkan dalam kitab Al I’lam dan As-Syi fa. Ada baiknya kita telaah kembali kedua kitab itu, sebab barang siapa yang tidak mengetahui kejelekan, ia akan tergelincir pada kejelekan itu.

Dari uraian mengenai murtad di atas dapat disimpulkan, bahwa kembali kepada setiap tekad, pekerjaan dan ucapan yang menunjukkan penghinaan kepada Allah, kitab-kitabNya, Rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, syiar-syiar agama-Nya, tanda-tanda agama-Nya, hukum-hukumNya, janji-Nya atau ancaman-Nya adalah bisa mengakibatkan kufur atau sekurang-kuranguya maksiat. Oleh karena itu setiap orang wajib berhati-hati dengan sekuat tenaganya dari perbuatan yang demikian, agar tidak tergelincir pada murtad.

Contoh ucapan yang bisa mengakibatkan murtad itu, ialah:

1. Seperti kata orang yang dizhalimi -kepada orang yang menzhaliminya: “Kamu telah menzhalimi aku.” Jawabnya: “Allah yang menzhalimimu.”

2. Seseorang berkata kepada orang mukmin: “Semoga Allah mencabut iman anu”.

3. Seseorang berkata: “Saya tidak mengetahui, apakah saya ini mukmin atau bukan”. Seharusnya orang mukmin itu berpendirian kuat, bahwa dia itu mukmin.

4. Seseorang berkata kepada orang lain: “Kamu dijadikan Allah untuk menganiaya manusia atau Allah menjadikan kamu untuk berbuat zhalim”.

Seseorang berkata kepada orang lain: “Kalau kamu tidak beriman, jadilah kamu kafir” Kata-kata itu sama dengan rela akan kekafirannya.

6. Seseorang berkata kepada orang lain: “Cukuplah salat itu buatmu.” Berarti ia tidak usah salat.

7. Seseorang berkata: “Salat itu mendatangkan apa?”

8. Seseorang berkata: “Kalau kamu masuk surga, aku akan memegang tanganmu, supaya aku masuk surga beserta kamu”.

9. Seseorang berkata ketika mendengar azan atau bacaan Quran: “Inilah yang mengacaukan atau menggangguku”.

10. Seseorang berkata: “Pahala dunia ini kontan, sedangkan pahala akhirat ditangguhkan. Yang kontan lebih baik daripada yang ditangguhkan”.

Dan banyak lagi yang lainnya.

Pasa1 3
TENTANG HUKUM MURTAD

Kewajiban orang yang pernah murtad, ialah kembali bertaubat ketika itu juga kepada keislamannya, dengan mengucapkan dua kalimah syahadat dan mencabut (meninggalkan) hal yang mengakibatkan kemurtadannya.

Berkewajiban pula merasa menyesal atas perbuatan yang telah dilakukannya, bertekad tidak akan mengulangi perbuatan semacam itu dan mengqadhai aural (kewajiban syara’) yang tidak dikerjakannya (seperti: salat, puasa, zakat dan sebagainya) pada, waktu itu juga. Kalau ia tidak segera tobat, wajib disuruh bertobat dan kebaikan dari orang murtad tidak akan diterima, kecuali setelah kembali memeluk Islam atau dibunuh (oleh imam atau pemerintah bila tidak masuk Islam lagi).

Akibat Murtad

Dengan murtad itu maka batal puasanya, tayamum dan nikahnya sebelum dukhul, demikian pula sesudah dukhul kalau dalam masa iddah ia tidak kembali memeluk Islam. Dan akad nikahnya tidak sah, (baik ia selaku pengantin laki-laki atau walinya).

Sembelihannya haram, tidak berhak menerima warisan (dari pewaris muslim dan hartanya); bila ia mati, hartanya tidak boleh diwariskan kepada ahli warisnya yang muslim, tidak boleh disalatkan, dimandikan, dikafani dan tidak boleh dikuburkan, (dalam kuburan muslimin). Harta peninggalannya menjadi harta fai, (yakni menjadi hak kaum muslim atau untuk kemaslahatan muslimin dengan pengaturan pemerintahnya).***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: